TRADISI BUSHIDO DAN PRAKTEKNYA PADA MASYARAKAT JEPANG MODERN
TRADISI BUSHIDO DAN PRAKTEKNYA PADA MASYARAKAT JEPANG MODERN
Oleh :
Akhir Yuliana Setianingrum
Abstrak
Tradisi kemiliteran dikenal
dengan tradisi yang sangat kaku dan kejam bagi sebagian masyarakat. Memang
didalamnya terdapat aturan yang menjadi sebuah kewajiban bagi setiap prajurit
untuk dipatuhi dantitaati. Baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
tugas. Pada masa Jepang Klasik dikenal adanya Bushido, yang merupakan kode etik prajurit Jepang pada masa itu. Bushido mengatur tata perilaku dan
sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang prajurit Jepang. Salah satu
tradisi Bushido yang paling dikenal
adalah Harakiri/ Seppuku. Di bawa pemerintahan Tokugawa, Bushido ini dikembangkan menjadi suatu fisafat, bahkan kemudian Bushido tidak hanya menjadi pegangan
kaum militer saja, melainkan menjadi pedoman tingkah bagi setiap orang dalam
pergaulan masyarakat, termasuk bertindak dan cara bercakap, memberi hormat,
mempertahankan kehormatan dan sebagainya. Berdasarkan berkembangannya bahkan
tradisi ini masih dilanjutkan oleh masyarakat Jepang modern.
Kata Kunci : Bushido, Tradisi Harakiri, Masyarakat Jepang Modern.
A.
Pendahuluan
Ilmu kemiliteran dipandang sebagai
sebuah pengetahuan yang hanya berlaku terbatas dikalangan militer saja.
Kesenjangan anatara sipil dan militer seringkali menimbulkan kesalah pahaman
dalam menyikapi satu sama lain. Peraturan-peraturan militer yang dikenal sangat
kaku dan ketat membuat masyarakat memandang bahwa militer adalah lambang
kekejaman dan kekerasan. Semua kegiatan anggota militer diatur dalam sebuah
undang-undang militer yang tidak boleh dilanggar, dan UU itu berbeda dengan UU
yang berlaku untuk masyarakat sipil. Ciri yang paling dapat dilihat dalam
tradisi militer adalah adanya sistem perintah komando, tegak lurus dari aras
kebawah yang sifatnya mutlak.
Dari sekian banyak sikap-sikap
kemiliteran ada beberapa point yang bisa diaplikasikan oleh semua orang yang
bukan termasuk dalam militer dalam melaksanakan kewajiban didalam kehdupan
sehari-hari, baik secara pribadi maupun dalam bermasyarakat. Seseorang
kadangkala keliru dalam mengartikan ‘militerisme’ dan ‘militan’, padahal
keduanya adalah hal yang berbeda. Dalam KBBI dijelaskan bahwa militerisme
adalah paham yang berdasarkan kekuatan militer sebagai pendukung kekuasaan,
pemerintah yang dikuasai oleh golongan militer, pemerintah yang mengatur negara
secara militer (keras, disiplin, dan sebagainya). Hal semacam ini biasanya
terdapat dalam sebuah pemerintahan yang otoriter. Sedangkan militan bermakna
bersemangat tinggi, penuh gairah, berhaluan keras, yang bisa dikatakan bahwa
sikap militan adalah sikap seorang yang memiliki daya juang tinggi.[1]
Sifat-sifat yang harus dimiliki seseorang adalah militan bukannya militerisme.
Militerisme biarlah milik mereka golongan prajurit (militer penuh).
Di negara Jepang sikap-sikap seorang
prajurit militer diatur dalam suatu kode etik prajurit yang disebut dengan Bushido. Bushido ini mengatur
sikap-sikap anggota kemiliteran Jepang Klasik, seperti sikap berani mati,
berani menghadapi bahaya, menjunjung tinggi tanah air serta setia kepada
pemimpin.[2]
Dalam tradisi Bushido ini dikenal
adanya istilah Harakiri, yaitu bunuh
diri guna menjunjung tinggi kehormatan, harakiri
dianggap sebagai perbuatan yang suci dan terhormat.
Aturan-aturan yang ada di dalam Bushido merupakan gabungan dari
nilai-nilai dalam paham-paham yang berkembang pada masyarakat Jepang, seperti
Konfusianisme, Buddhisme dan Shintoisme. Maka tak heran jika pada
perkembanganya tradisi ini tidak hanya dipegang teguh oleh prajurit militer
Jepang, tapi juga menjadi semacam nilai dan norma yang patut dilaksanakan bagi
masyarakat Jepang secara umum, bahkan pada masyarakat Jepang modern.
B.
Bushido
dan Harakiri di Awal Pembentukannya
Tahun 1185 keluarga Minamoto di bawah
pimpinan Minamoto Ni Yoritomo berhasil mengalahkan keluarga Taira. Kaisar
kemudian mengangkat Minamoto No Yoritomo sebagai pimpinan Militer tertinggi
Jepang yang berkedudukan di Kamakura. Kedudukan Kaisar sebagai pemimpin negara
kemudian menjadi melemah. Meskipun kedudukan Kaisar masih sebagai penguasa
tertinggi Jepang akan tetapi segala aktivitas kepemerintahan lebih banyak
dilakukan oleh Militer.
Tahun 1912 Minamoto No Yoritomo memakai
gelar ‘Shogun’, yang artinya adalah
pemimpin tertinggi militer, yang pada perkembangannya menjadi pemimpin diktator
militer. Pemerintahan militer di bawah Shogun
yang pertama, Minamoto No Yoritomo disebut dengan Bakufu. [3]Sehingga
di Jepang munculah adanya dualisme kepemimpinan :
a. Pemerintahan
Sipil, yang berkedudukan di Kyoto dibawah kekuasaan Kaisar kepala pemerintahan,
dan,
b. Pemerintahan
Militer, yang berkedudukan di Kamakura dengan Shogun sebagai pemimpin
pemerintahan.
Dalam perkembangannya lahirlah sebuah
aturan atau kode etik yang mengatur tingkah laku dan kehidupan kaum prajurit
yang disebut dengan Bushido artinya “Jalan Ksatria”. Bushido berasal dari kata “bu” yang atinya beladiri, “shi” artinya
Samurai (orang) dan “do” artinya jalan. Secara sederhana Bushido berarti jalan
terhormat yang harus ditempuh seorang Samurai dalam pengabdiannya.[4]
Bushido tidak sekedar berupa aturan dan taracara berperang serta
mengalahkan musuh, tetapi memiliki makna yang mendalam tentang perilaku yang dihayati untuk kesempurnaan dan kehormatan seorang Samurai (prajurit).
Dalam etika Bushido terkandung ajaran-ajaran moral yang tinggi terkait dengan
tanggung jawab, kesetiaan, sopan santun, tata krama, disiplin, kerelaan
berkorban, pengabdian, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman
berpikir, kesederhaanan, kesehatan jasmani dan rohani, kejujuran, pengendalian diri.
Dalam menjalankan Bushido seorang
Samurai dituntut total dalam pengabdiannya. Bahkan kematian yang sempurna dan
mulia adalah kematian dalam rangka membela kaisar (Tenno) dan Negara.
Bushido
merupakan etika yang dipengaruhi oleh ajaran Budha Zen. Zen merupakan moral dan
filosofis Samurai. Zen sebagai dasar moral karena Zen merupakan agama dan
kepercayaan yang mengajarkan bahwa tidak ada tenggang waktu (jeda) dari
perbuatan yang telah dimulai dan harus diselesaikan. Sebagai filosofi Zen menekankan bahwa tidak ada batas antara
hidup dan mati.
Selain dilandasi oleh etika Zen, Bushido juga dilandasi oleh etika
Confusius dari Cina yang masuk ke Jepang pada masa pemerintahan kaisar Shotoku
pada tahun 593 (periode Yamato). Ajaran Confusius mengatur harmonisasi hubungan antara sesama manusia,
hubungan manusia dengan mahluk lain yang ada di dunia dan hubungan manusia
dengan dengan alam. Selain itu ajaran Confusius menekankan hubungan yang
harmonis antara sisi fisik dan batin manusia. Prinsip keseimbangan ini berlaku
dari jaman dahulu sampai sekarang, karena orang-orang Jepang menyadari bahwa
kehidupan fisik dan spiritual memiliki peran yang sama-sama penting. Perlakuan
yang bertujuan untuk memisahkan keduanya atau membiarkan ketidakharmonisan keduanya berpotensi menimbulkan bencana dan kerusakan.
Selain didasari oleh ajaran Zen dan
Confusius, Bushido juga dipengaruhi
oleh ajaran Shinto yang mengajarkan kesetiaan kepada Kaisar (Tenno) dan negara.[5]
Kristalisasi ajaran Bushido
seringkali diekspresikan oleh Samurai
dalam seppuku, yaitu tindakan menusuk
atau merobek perut dengan pedang dengan tujuan untuk mempertahankan kehormatan
atau harga diri. Seppuku bukan sekedar harakiri (tindakan bunuh diri) yang
kosong tanpa makna, tetapi merupakan tindakan yang mulia ketika seorang Samurai
tidak dapat menegakkan kehormatannya semasa hidup, maka ia lebih memilih
kematian. Cara pandang samurai terhadap kematian adalah ibarat bunga sakura
yang indah, tetapi keindahannya tidak berlangsung lama. Samurai lebih memilih
hidup yang singkat tetapi bermakna (indah) dari pada hidup panjang yang tanpa
kharisma.
C.
Modernisasi Pada Masyarakat Jepang
Runtuhnya kekuasaan keshogunan Tokugawa
menyebabkan munculnya perubahan sosial
yang sangat dasyat di Jepang. Tenno yang saat itu berkuasa adalah Mutsuhito
atau sering disebut dengan Meiji Tenno. Saat isolasi Jepang dibuka oleh
Amerika, Jepang baru menyadari bahwa dunia di luar Jepang telah maju demikian
pesat, yang tidak mungkin dilawan dengan kekuatan persenjataan tradisional yang
sederhana. Bersama dengan para Daimyo
yang membantunya pada tahun 1868 Meiji Tenno yang masih berusia belia melakukan
gerakan pembaharuan yang dikenal dengan Restorasi Meiji. Restorasi Meiji dilaksanakan dengan pemikiran bahwa bangsa Barat tidak bisa dikalahkan
hanya dengan kekuatan senjata yang tidak seimbang, tetapi harus diimbangi
dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Istilah modernisasi Jepang biasanya
mengacu pada Meiji Ishin, atau
Restorasi Meiji tahun 1868. Jepang yang sebelumnya menerapkan politik menutup
negeri dari pengaruh asing (sakoku) selama sekitar 270 tahun mulai membuka diri
(kaikoku).[6]
Ini merupakan sebuah titik balik yang sangat penting dalam sejarah Jepang.
Secara langsung peristiwa ini dipicu oleh tekanan Amerika Serikat yang mengirim
Komodor Perry dengan empat buah kapal perang di tahun 1853. Dengan demikian,
dimulailah modernisasi Jepang secara besar-besaran. Pada mulanya Meiji ishin
merupakan pembaruan di bidang politik dan industri, yang kemudian berkembang ke
segenap aspek kehidupan. Karena Jepang banyak meniru, atau mengadopsi banyak
hal dari Barat, tidak sedikit pula yang mengatakan modernisasi Jepang sebagai
westernisasi atau pembaratan. Hal ini dilakukan karena Jepang menyadari
ketertinggalan mereka dari Barat, khususnya dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga berusaha mengejar ketertinggalan tersebut. Hal ini mereka
lakukan, misalnya, untuk menghindari agresi negara Barat.
Dengan kesadaran dan pemikian yang
demikian ini, maka kemudian Tenno mengadakan perubahan yang sangat fundamental
yaitu antara lain :
-
Penghapusan golongan Samurai sebagai
kelas tertinggi dalam struktur masyarakat Jepang
-
Pendidikan wajib bagi seluruh masyarakat
Jepang selama 4 tahun.
-
Menumbuhkan kesadaran untuk lebih
berorientasi pada kekuatan bangsa sendiri dan tidak mengandalkan bantuan dari
bangsa lain.
-
Menetapkan sistem wajib militer yang
dikuatkan oleh Undang-undang pada tahun 1872.
-
Perubahan sistem perpajakan.
Ideologi Wakon merupakan salah satu cara
Jepang untuk menghadapi derasnya pengaruh kebudayaan Barat pasca-Restorasi
Meiji dengan tetap melestarikan nilai-nilai tradisional yang telah lama ada.
Salah satunya adalah nilai-nilai Bushido.
Walaupun demikian, bukan berarti bahwa proses Restorasi Meiji seluruhnya
berjalan lancar. Tidak sedikit yang merasa bingung dengan kondisi Jepang yang
mengalami perubahan demikian drastis. Sikap setuju dan tidak setuju terus
bergulir dalam masa transisi ini. Banyak juga yang mengkhawatirkan kebudayaan
mereka sendiri. Di kalangan cendekiawan pun terjadi berbagai macam polemik.
Setidaknya ada dua kubu yang saling bertentangan, yaitu Minyusha dan Seikyosha.
Di satu pihak kelompok Minyusha, yang diketuai Tokutomi Soho, menyetujui impor
kebudayaan Barat, dengan alasan agar Jepang dapat mengejar ketertinggalannya
dari Barat. Di pihak lain, kelompok Seikyosha yang dipimpin oleh Miyake
Setsurei bertujuan tetap melestarikan kebudayaan Jepang. Banyak yang menilai
bahwa perubahan yang terjadi terlalu ekstrem sehingga memunculkan berbagai
kekhawatiran.
Pemerintah tampaknya menyadari hal ini
sehingga pengaruh asing yang ada dalam buku teks sekolah dikurangi dan
nasionalisme mulai ditanamkan dalam masyarakat. Kelompok kaikoku-ha
(propembukaan negara) berpendapat bahwa diperlukan unsur kebudayaan asing untuk
mencapai tujuan negara yang kaya dengan militer yang kuat (fukoku kyohei) yang
menjadi semboyan yang dikumandangkan pada masa Meiji. Adapun kelompok yang
menentang (joiha) berpendapat bahwa masuknya unsur kebudayaan asing akan
merusak tatanan masyarakat yang ada karena tidak sesuai dengan etika Konfusius
yang selama ini dianut. Meskipun demikian, ada kelompok lain yang dipelopori
Sakuma Shozan yang berpendapat bahwa untuk mengejar ketinggalannya dari Barat,
Jepang tidak bisa hanya berkiblat pada Barat saja. Hal ini memunculkan konsep
manusia ideal, yakni wakon yosai, yang berarti berjiwa Jepang dan menguasai
ilmu pengetahuan Barat. Dengan demikian, untuk menjadi modern tidak harus
meninggalkan etika ketimuran, yang dalam hal ini adalah etika Konfusius yang
selama ini dianut mereka.
D. Bushido
dan Golongan Samurai Pasca Modernisasi
Setelah kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan oleh Kaisar Meiji, para kaum samurai agak kesulitan menangani diri.
Mereka yang tidak lagi memiliki kedudukan istimewa di dalam struktur masyarakat
Jepang harus berbaur dengan masyarakat umum dan tidak lagi bisa menggunakan
pedangnya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada sisi positif dari peleburan
golongan samurai dalam lingkungan masyarakat biasa, yaitu sikap dan karakter
positif samurai seperti kedisiplinan, kesetiaan, dedikasi, menjunjung
kehormatan, menegakkan harga diri, kesopanan dan watak kesatria dapat di serap oleh kalangan masyarakat umum.
Pada dasarnya perubahan sosial yang terjadi Jepang dijalani oleh seluruh
masyarakat dengan satu tekat untuk kejayaan dan kemakmuran Jepang di masa yang
akan datang.
Dalam proses pemulihan negara dan bangsa
pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II, bangsa Jepang tetap teguh dan
disiplin dalam mengejar ilmu pengetahuan dan alih teknologi dari negara-negara
Barat. Walaupun Jepang mengalami kehancuran fisik yang parah setelah Perang
Dunia II, bangsa Jepang tidak mengalami kehancuran mental dan spiritualnya.
Bangsa Jepang memiliki keistimewaan yaitu kecepatan menyadari kondisi/situasi
yang dihadapi dan kecepatan menyesuaian diri pada kondisi tersebut.[7]
Dalam waktu yang tidak terlalu lama bangsa Jepang kembali bangkit untuk menata
kehidupan sosial, ekonomi serta
industrinya yang maju pesat menyaingi industri negara-negara Barat. Berkat
kedisiplinan, kerja keras, dedikasi yang tinggi dan dengan tujuan untuk menegakkan
harga diri di mata dunia, pada tahun 1970-an Jepang sudah dapat dikategorikan
sebagai salah satu negara maju dan modern di dunia.
E. Bushido
Masa Kini
Walaupun
Samurai telah dihapus dan peperangan tidak terjadi lagi di Jepang, ajaran Bushido pada jaman modern ini masih
dilaksanakan dan diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan dasar di
rumah dan di sekolah-sekolah. Ajaran dan etika Bushido masih sangat relevan diterapkan dalam berbagai bidang
kehidupan masa kini. Secara menyeluruh ajaran bushido tertuang dalam The
Seven Virtues of Bushido[8], yaitu :
1.
Gi ( Integritas). Gi
merupakan etika Samurai yang berkaitan dengan kemampuan untuk memecahkan
masalah dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan pada alasan-alasan yang
rasional. Gi merupakan dasar dari keseluruhan sikap mental terkait dengan
keselarasan pikiran, perkataan dan perbuatan dalam menegakkan kejujuran dan
kebenaran. Ketika seseorang sudah memutuskan sesuatu tindakan, tentu sudah melalui
proses kajian dan pertimbangan mendalam serta sudah dipertimbangkan pula akibat
yang akan timbul dari keputusan tersebut. Keberhasilan atau kegagalan dari
keputusan tersebut adalah bagian dari beban yang harus diterima dengan penuh
tanggung jawab. Kebenaran mutlak dalam gi adalah bersumber dari hati nurani,
sehingga ketika terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan, orang Jepang
selalu melakukan instrospeksi diri, melihat ke dalam diri mereka sendiri.
Bagi
orang Jepang perbuatan mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain adalah
perbuatan yang tidak terpuji. Kegagalan bagi orang Jepang dimaknai sebagai
proses penempaan diri dan dasar untuk melakukan perbaikan terus menerus. Dalam
konsep gi terkandung unsur pencarian ilmu dan pengetahuan yang berkesinambungan.
Penguasaan
ilmu dan pengetahuan penting untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Bagi masyarakat Jepang pengambilan keputusan yang cepat dan tepat diperlukan
untuk menghadapi segala situasi yang kadang terjadi tidak terduga. Penerapan gi
secara menyeluruh mempresentasikan kualitas pribadi seseorang. Secara umum
seorang pemimpin berada pada puncak kariernya setelah melalui tahap-tahap
penyempurnaan gi. Jadi orang yang menerapkan gi secara total dapat
dikategorikan sebagai orang bijak yang telah mencapai tingkat kesempurnaan
secara mentalitas maupun spiritual. Gi merupakan salah satu dasar penilaian untuk menentukan
kemampuan seseorang menjadi pemimpin masyarakat yang dapat dijadikan teladan.
2. Yu (keberanian).
Yu (keberanian) adalah etika yang penting dalam semua aspek kehidupan
masyarakat Jepang. Nilai-nilai yang berkaitan dengan yu adalah modal yang
sangat menentukan perjalanan hidup masyarakat maupun bangsa Jepang. Yu
merupakan ekspresi kejujuran dan keteguhan jiwa untuk mempertahankan kebenaran,
walaupun dalam menegakkan kebenaran penuh tekanan dan hambatan. Di dalam yu
terkandung kesiapan menerima resiko dalam upaya mengatasi masalah atau
kesulitan. Dahulu keberanian merupakan
ciri khas para Samurai, yang siap menerima risiko apapun termasuk resiko
menerima kematian untuk membela kebenaran dan keyakinan. Keberanian mereka
tercermin dalam prinsipnya yang menganggap hidup dan mati sama indahnya. Walau
demikian, keberanian Samurai bukan semata-mata keberanian yang tanpa perhitungan,
melainkan keberanian yang dilandasi latihan yang keras dan penuh disiplin.
Setelah
era Samurai usai masyarakat Jepang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam
keberanian dalam bentuk keberanian bersaing dalam upaya mencapai kedudukan
sebagai bangsa terhormat.
3. Jin (Murah Hati). Makna jin adalah mencintai sesama, kasih
sayang dan simpati. Nilai Bushido
yang terkait dengan jin berasal dari etika Konfusius dan Tao yang
mengekspresikan aspek keseimbangan antara maskulin (yang) dan feminin
(yin). Dahulu Samurai yang memiliki
keahlian bertempur yang hebat, dia juga harus memiliki sifat-sifat yang penuh
kasih, murah hati, memiliki kepedulian sosial yang tinggi kepada sesama
manusia, memiliki kemauan dan kemampuan untuk memaafkan orang-orang atau pihak
yang melakukan kesalahan terhadap dirinya.
Secara
umum masyarakat dan generasi Jepang saat ini masih memiliki dan menerapkan
nilai-nilai jin dalam bentuk kepedulian pada lingkungan, kepedulian pada
masalah-masalah sosial masyarakat. Masyarakat Jepang saat ini sangat ekspresif
mengungkapkan bentuk-bentuk cinta dan kasih sayang serta sangat menghargai
eksistensi kemanusiaan terkait dengan agama, budaya, politik, ekonomi.
4. Rei (Hormat dan Santun Kepada Orang Lain). Salah satu
sikap Samurai yang diterapkan secara mendalam
adalah sikap hormat dan sopan santun yang tulus yang ditujukan kepada semua
orang, tidak hanya kepada atasan, pimpinan dan orang tua. Bahkan sikap hormat,
santun dan hati-hati juga terlihat dalam penggunaan benda-benda dan senjata.
Samurai sangat menghindari sikap ceroboh yang tidak tertata. Sikap hormat dan
santun tercermin dalam sikap duduk, cara berbicara, cara menghormati dengan
menundukkan badan dan kepala.
Penerapan
rei pada masyarakat Jepang saat ini masih terlihat dan bahkan menjadi salah satu
karakter masyarakat Jepang. Penanaman
rei dilakukan sejak usia dini di rumah dan sekolah, sehingga dalam semua aspek
kehidupan masyarakat Jepang rei sangat diutamakan.
5. Makoto-Shin (Kejujuran dan
Ketulusan). Samurai selalu mengungkapkan apa yang ada dalam
pikirannya, dan melakukan apa yang mereka katakan. Samurai sangat menjaga
ucapannya, tidak berkata buruk (bergunjing) tentang keburukan seseorang atau
situasi yang tidak menguntungkan sekalipun. Janji yang diucapkan seorang
Samurai harus ditepati bagaimanapun sulitnya, karena janji bagi seorang Samurai ibarat hutang yang harus dibayar.
Penerapan
Makoto-Shin pada masayarakat Jepang dewasa ini terlihat pada seluruh aspek
kehidupan masyarakat. Ketidakjujuran dan ketidakbenaran dianggap sebagai hal
yang memalukan sehingga ajaran tentang Makoto-Shin diberikan sejak usia dini di
dalam rumah tangga dan sekolah. Sanksi moral yang diberikan masyarakat terhadap
pelanggaran Makoto-Shin merupakan sanksi yang dihindari karena akan merusak
nama baik pribadi, keluarga, lembaga atau masyarakat dan bangsa.
6. Meiyo (Menjaga Nama Baik dan
Kehormatan). Meiyo merupakan etika Samurai untuk
menjaga nama baik dan menjaga kehormatan. Bagi Samurai lebih utama menghormati
dan menerapkan etika secara benar dan konsisten dibandingkan dengan
penghormatan kepada kharisma dan talenta pribadi. Samurai lebih mementingkan
penghormatan pada perbuatan nyata dari pada pengetahuan. Penghormatan yang
tinggi seorang Samurai ditujukan kepada atasan/majikan, orang tua dan keluarga.
Kehormatan dan harga diri Samurai diekspresikan dalam bentuk konsistensi sikap
dan kekokohan mereka memegang dan mempertahankan prinsip kehidupan yang
diyakini. Bila seorang Samurai tidak menunjukkan sikap terpuji dan terhormat,
maka dia tidak mendapatkan pengehormatan yang layak dari masyarakat. Dalam
menegakkan kehormatan dan harga dirinya, tidak jarang samurai harus melakukan
seppuku.
Meiyo
dalam keseharian masyarakat Jepang tampak sangat menonjol. Salah satu sikap
Meiyo adalah menjaga kualitas diri dengan cara tidak membuang-buang waktu
untuk hal-hal yang tidak penting dan
menghindari perilaku yang tidak berguna. Secara umum di ruang publik kita tidak
pernah menemui orang Jepang sedang bersantai tanpa kegiatan atau bergunjing. Dalam
keadaan bersantaipun orang Jepang tetap melakukan kegiatan seperti membaca atau
mengirim email, membuat catatan atau kegiatan lainnya. Oleh karena itu bangsa
Jepang merupakan salah satu bangsa yang gila kerja untuk meraih tingkat
kehormatan yang tinggi.
7. Chugo (Kesetiaan Pada Pemimpin).
Chugo merupakan etika Samurai yang berkaitan dengan kesetiaan pada pimpinan. Kesetiaan pada pimpinan dilakukan secara
total dan penuh dedikasi dalam pelaksanaan tugas. Kesetiaan dan pembelaan
Samurai pada pimpinan/atasan dilakukan sepanjang hayat, dalam keadaan senang
atau susah. Puncak pengabdian dan kesetiaan Samurai kepada atasannya adalah
ketika Samurai melakukan pembelaan kepada atasan atau pimpinan sampai harus
mengorbankan jiwanya. Bagi Samurai kematian yang indah adalah kematian ketika sedang menjalankan
tugas dan kewajibannya.
Ekspresi
Chugo dalam masyarakat Jepang dewasa ini adalah kesetiaan kepada pimpinan,
atasan dan guru. Demi menjaga nama baik dan kehormatan pimpinan, atasan maupun
guru, masyarakat Jepang mau bekerja keras
semaksimal mungkin. Upayanya dalam bekerja keras adalah selain untuk
kesetian dan penghormatan kepada atasan, pimpinan dan guru, juga untuk
kehormatan dirinya sendiri. Ajaran Chugo
secara menyeluruh ditanamkan di dalam rumah-tangga dan sekolah sejak usia dini.
Akumulasi
dari keseluruhan etika Bushido memunculkan sikap-sikap yang
berkaitan dengan amae, on, gimu, giri, yang sampai saat ini mewarnai perilaku
umum bangsa Jepang. Amae merupakan sikap individu dalam kelompok, yang selalu
menjaga keharmonisan hubungan antarindividu dalam kelompok tersebut. Kehidupan
dalam kelompok menuntut toleransi yang tinggi, yang setiap anggotanya
diharapkan tidak menunjukkan emosi yang berkaitan dengan kesenangan, kesedihan,
kemarahan, kegembiraan. Anggota kelompok juga diharapkan tidak bersikap
menguasai anggota lainnya. On adalah perasaan berhutang budi yang mendalam
terhadap orang tua, para pemimpin/penguasa, masyarakat, bangsa dan Negara. On
ini harus dibayar dalam bentuk pengabdian tanpa batas. Gimu adalah pelaksanaan
kewajiban dalam upaya membalas kebaikan-kebaikan yang diberikan orang tua,
pemimpin/penguasa, bangsa dan Negara yang tak terbatas baik dalam jumlah maupun
waktunya. Giri adalah kewajiban untuk membalas kebaikan-kebaikan yang telah
diberikan oleh orang lain. Sikap-sikap tersebut menunjukkan bentuk-bentuk
solidaritas kelompok, sikap patriotisme dan nasionalisme yang tinggi, yang
menjadi karakter bangsa Jepang saat ini.
F.
Kesimpulan
Pada era ke-Shogunan di Jepang munculan
istilah Bushido, yaitu etika dan moral yang harus dimiliki oleh seorang
prajurit Jepang. Aturan-aturan yang termuat menjadi semacam hukum yang harus
ditepati oleh setiap prajurit Jepang. Ta jarang jika mereka merasa telah gagal
menjaga hal tersebut, para samurai melakukan tradisi Harakiri, yaitu bunuh diri
dengan memotong perutnya sendiri. Seorang samurai yang telah malaksanakan
harakiri dianggap telah memulihkan kehormatan terhadap dirinya sendiri,kaisar
dan bangsa Jepang itu sendiri.
Pasca Restorasi Meiji Jepang mengalami
proses modernisasi yang sangat cepat. Dimana proses itu sering disamakan dengan
westernisasi karena Meiji Tenno sangat berkiblat pada dunia Barat dalam
melakukan modernisasi di Jepang. Mereka merasa dunia nya sudah tertinggal jauh
dari kehidupan Bangsa Barat. Sehingga Jepang mencoba untuk menyamai mereka
dalam berbagai bidang kehidupan, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.
Adanya modernisasi tersebut berdampak
pula pada kehidupan para samurai. Mereka bukan lagi golongan istimewa dalam
struktur msayarakat Jepang. Merke dituntut agar bisa membaur dan menyatu dengan
masyarakat umum, dan melebur menjadi satu tanpa identitas samurainya lagi.
Dalam proses pembauran itu ada nilai-nilai dari seorang samurai yang masih
tertanam dalam kepribadian mereka yang ditransfer kedalam kehidupan
bermasyarakat. Hal ini pun lambat laun juga menjadi kepribadian yang harus
dimiliki oleh setiap orang Jepang sebagai sebuah etika dan moral dalam
berperilaku. Bahkann pacsa kehancuran Jepang pada PD II yang meluluh-lantahkn
Jepang tidak berlangsung lama. Daam waktu yang relatif singkat dan cepat Jepang
telah kembali pulih berkat tertanamnya etika bushido dalam diri setiap orang Jepang.
Di tengah-tengah masyarakat Jepang yang
sudah modern, etika Bushido tetap dijalankan. Sikap-sikap yang terkandung dalan
The Seven Virtues of Bushido menjadi semacam norma wajib dipatuhi oleh setiap
orang Jepang. Nilai-nilai ini menjadikan masyrakat Jepang selalu memiliki etos
kerja yang baik, dan memiliki semangat tinggi dalam melaksanakan berbqagai hal
di setiap aspek kehudupannya.
Daftar
Pustaka
Buku
:
Agung, leo. 2012. Sejarah Asia Timur 1.
Yogyakarta : Ombak.
Benedict, Ruth. 1982. Pedang Samurai dan
Bunga Seruni : Pola-pola Kebudayaan Jepang. Jakarta : Sinar Harapan.
Suryohadiprojo, Sayidiman.1981. Manusia
dan Masyarakat Jepang Dalam Perjoangan Hidup. Jakarta : UIP
Artikel
dan Jurnal
Bambang Wibawarta, Bushido
dalam Masyarakat Jepang Modern, Wacana, vo. 8, no. 1, 2006.
Suliyati, Titiek, Bushdo pada Masyarakat
Jepang : Masa Lalu dan Masa Kini, tidak ada penerbit dan tahun terbit.
Lain-lain :
Kamus
Besar Bahasa Idonesia Edisi Kelima, Kemendikbud RI
http://www.mindbodyvortex.com/the-seven-virtues-of-bushido/
[1]
Kamus Besar Bahasa Idonesia Edisi Kelima, Kemendikbud RI
[2]
Agung, Leo, Sejarah Asia Timur 1, Ombak, Yogyakarta, 2012,. hal. 98.
[3]
Ibid., hal. 97
[4] Benedict, Ruth, Pedang Samurai
dan Bunga Seruni : Pola-pola Kebudayaan Jepang, Sinar Harapan, Jakarta, 1982,
hal. 335
[5]
Suryohadiprojo, Sayidiman, Manusia dan
Masyarakat Jepang Dalam Perjoangan Hidup, UIP, Jakarta 1981, hal. 49
[6]
Bambang Wibawarta, Bushido dalam Masyarakat Jepang Modern, Wacana, vo. 8, no. 1, 2006,
hal. 59-60
[7]
Suliyati, Titiek, Bushdo pada Masyarakat Jepang : Masa Lalu dan Masa Kini,
tidak ada penerbit dan tahun terbit. hal. 7
[8]
http://www.mindbodyvortex.com/the-seven-virtues-of-bushido/
Komentar
Posting Komentar