DERU KERETA SEMALAM, Catatan Perjalanan.



DERU KERETA SEMALAM
Oleh : YS Pevensie

Jalanan di kota Yogyakarta sudah mulai sesak di banjiri kendaraan pribadi, aku tahu kemana mereka akan pergi dengan hanya melihat plat nomor yang terpasang di kendaraan itu. Koper-koper besar, bahkan sepeda di bawakan serta di tali di atas mobil yang dibalut terpal untuk menadahi panas. Menggunakan kendaraan umum nampaknya menjadi pilihan yang tepat untukku saat ini. Bukan bus, aku tak suka. Kereta dengan sejuta kenangannya aku lebih nyaman ada didalamnya. Jangan tanya dengan siapa perjalnanku kali ini, tak akan ku jawab.
Bila kupandangi raut wajah para penumpang kereta, kurasa ini adalah perjalanan yang penuh rasa. Beberapa diantara mereka nampak sangat bahagia, dan sebagain besar hinga hampir seluruhnya merasa senang, kecuali dia yang menahan rindu teramat dalam kepada kleuarga sehingga merasa gundah sepanjang jalan. Bagiku entah pergi atau menuju kesuatu tempat tak ada bedanya. Semua pengguna jasa kereta api ini pergi dan pulang, meninggalkan dan menemui orang secara bersamaan. Di belakang kendaraan yang kita tumpangi ada segelintir orang yang sedih karena ditinggal pergi, tapi diujung persinggahan terakhir yang kita tuju akan ada wajah-wajah bahagia yang tak sabar menunggu kedatangan kita dan memeluk mereka.
“Permisi mbak, saya duduk di nomor 11b, kok sudah penuh ya?”, kataku pada sepasang kekasih yang duduk dikursi yang seharusnya kududuki. “Eh.. iya mba maaf, saya duduk di sebelah tapi saya ga mau sendirian”, tukasnya dengan nada penuh harap padaku. Aku merasakan berjauhan dari orang yang aku sayangi sangat menyengsarakan, akhirnya aku memilih duduk di kursi milik mbaknya tadi. Beberapa menit kemudian, mas-mas berambut cepak duduk di depanku dan tersenyum seraya merapikan tasnya diatas cabin kereta.
Berbagai macam warna, jenis dan bentuk tas tertata rapi di atas kepalaku. Aku menerka-nerka apa isi tas itu, sepertinya begitu berat. Tas ku seindiri hanya ku isi dengan pakaian scukupnya dan seperangkat peralatan make-up seadanya. Kepada mas-mas itu tadi aku bertanya, “Apa isi tas dan kopermu? Kenapa sangat berat?”, mas-mas itu kembali hanya tersenyum kepadaku. “Isinya doa dan harapan yang sangat banyak. Semuanya sudah kurapikan sejak dua minggu lalu mbak, tepat setelah ibuku mengirimkan pesan, katanya kue-kue lebaran kesukaanku sudah di buatkan”, tuturnya kemudian. Sungguh sangat mesra cerita menuju lebaran ini.Aku jadi tidak sabar untuk segera sampai ke tujuanku.
“Mbaknya mau kemana?”, nadanya sangat lembut hingga harus membuatku melepas headset yang ku pakai. “Saya mau ke Bekasi mas. Mas sendiri mau kemana?” Percakapan kami menjadi sangat meriah saat tahu kami berhenti di stasiun yang sama. Stasiun demi stasiun, aku terus terpaku pada masnya yang cepak ini. aku ingin bertanya tapi dia sepetinya sangat lelah jadi aku putuskan untuk ikut tidur sembari menunggu perjalanan penuh rasa ini agar segera berakhir. Denting pengumuan pada setiap pemberhentian terus saja mengganggu tidurku. “Mba, Bekasi itu tidak seperti Jogjakarta”, kata masnya tiba-tiba yang sudah terbangun dari kenyamanan kursi kereta ekonomi ini.
Menara Masjid Agung Cirebon yang nampak dari dalam kereta sangat megah, aku jadi ingin singgah kapan-kapan. Oiya, Aku jadi teringat pada seorang sahabat yang kali ini mengadu nasib disana. Bila nanti sahabatku itu sudah diizinka keluar dojo dan bersenang-senang, Aku akan memintanya mengantarku keliling kota ini. Hidup sebagai seorang serdadu memang harus seperti itu.
Sekitar dua jam lagi perlananku berakhir. Wahhh., rasa lapar ini terus menggerogoti perutku. Sedari adzan maghrib memanggil-manggil ku tadi sore, Aku belum lagi melahap santap berbuka. Hanya seteguk air putih yang ku bawa dari kos yang ku miliki. Sambil terus mengenakan headset keusakaanku, lantunan lagu dari penyanyi Anji, yang berjudul “Menunggu Kamu” masih tetap menemaniku dan mengingatkanku akan setiap perjalanan yang sudah aku tempuh beberapa tahun terakhir ini. Aku sendirian, tetap saja begitu, tapi hatiku sudah tidak kosong lagi. “Apa kabar sayang, kamu yang lebaran tahun ini tak pulang?”
Dentingan pengumuman dari operator kereta mengabarkanku dan memptong lamunanku yang masih tertuju kepada Mas-mas cepak ini. Kota Bekasi sudah menyambutku dengan rasa lapar yang belum juga hilang. Aku membayangkan akan makan apa nanti sesampainya di sana. Kota Bekasi!! “Mba, Bekasi itu tidak seperti Jogjakarta”, kalimat itu terus saja terngiang dikepalaku. Astagaa!! Aku lupa berkenalan dengan mas-mas tadi. Hmmm.. Ada apa pikirku tentang kota industri ini?
Rasa lapar ini mendadak hilang saat aku mulai melintasi jalanan Kota Bekasi, bukan dengan mobil kali ini, tapi sepeda motor. Jadi ini Bekasi?
Fokusku tak berubah, hingga aku menyadari bebera hal. Kota Yogyakarta terlalu ramah untuk dikatakan sebagai kota yang macet. Deru kereta malam ini membuatku banyak belajar bahwa tidak ada rasa yang pernah tertinggal dari suatu harapan saat kita pergi atau menuju ke suatu tempat. Namun, tidak semua harapan harus tertuntaskan. Aku ingin mengunjungi kakak ku di Bekasi yang nampaknya sedari sebulan lalu kesepian saat kekasih hatinya pulang ke rumah ayahnya dengan sangat menyakitkan. Kota Bekasi yang aku sambangi, pasti menambah daftar cakrawala di utara Jawa yang kabarnya diisi gedung-gedung pabrik dan berbagai suara bising serta kepulan asap yang dibakar dari asa buruh-buruhnya. Meskipun ada sedikit kecewa aku akan menikmati Kota Bekasi dengan mengamati jejeran gerobak di pinggir jalan yang ternyata tempat tinggal keluarga-keluarga yang kurang beruntung.
Melihat Kota Bekasi membuatku menjadi lebih bersyukur. Deru keretaku semalam telah meninggalkan cerita, tapi deru mesin pabrik pagi ini di Bekasi akan membuat cerita baru. Tempat dimana berbagai macam produk kemasan yang kita nikmati di rancang dan di ciptakan disini.
J J J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERANGAN UMUM 1 MARET