Laskar Putri Indonesia



LASKAR PUTRI INDONESIA
Kiprah perempuan dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan tidaklah sedikit. Banyak nama-nama perempuan yang tercatat dalam sejarah sebagai peahlawan ataupun pejuang. Istilah “selalu ada perempuan hebat dibalik laki-laki yang kuat”, merupakan salah satu bukti bahwa memang peran perempuan sangat besar. Mereka tidak saja berjuang di belakang kaum pria, tetapi juga berani berjaung menjadi yang terdepan, memimpin pasukan dan bahkan memegang senjata.
Bukan hanya sebagai individu, tetapi perempuan –perempuan itu juga berjuang bersama dengan membentuk kelompok, barisan perempuan, dan bahkan laskar. Diantara pejuang perempuan itu, tidak sedikit dari mereka yang bahkan meregang nyawa untuk berjuang mempertahankan bangsanya. Kendati demikian, risiko kehilangan nyawa tak menyurutkan tekad para perempuan ikut memperjuangkan kemerdekaan.
Kaum Perempuan di kota Bengawan , Solo turut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.  Pada 11 Oktober 1945, ketika perang berkecamuk, beberapa wanita mempunyai gagasan mendirikan kesatuan bersenjata bernama Laskar Putri Indonesia. Mulanya, anggotanya hanya terdiri dari beberapa perempuan berani yang bertekad kuat. Mereka antara lain Soedijem, Siti Hartinah, Sajem, Ismarsijah, Mardinijah, Sapardijatmi, dan Soeharni. Mereka berupaya menarik simpatisan sebanyak mungkin agar mau bergabung dengan memasuki sudut-sudut kota dan pedesaan.
Sebab kesungguhan para perempuan ini, mereka akhirnya memiliki anggota sebanyak 200 orang yang terdiri dari perempuan-perempuan yang belum menikah. Anggota LPI dilatih tim Batalion IV/X Beteng cara menembak, bongkar-pasang senjata, dan baris-berbaris. Kala itu, tenaga LPI semula dikerahkan hanya untuk membuat dapur umum di Semarang. Dapur umum itu tersebar di Bandareja, Ungaran, Salatiga, Banyumanik, Genuk, dan Mranggen. Tugas mereka menyediakan sayuran, lauk pauk, sambal pecel, dan kue kering untuk konsumsi para pejuang yang baku tembak.
Tak berselang lama, LPI Solo melipatgandakan fungsi melalui pendirian pos kesehatan (PMI) di Tengaran, Tuntang, Salatiga, Kaliceret, serta Ngampel. Saking banyak korban yang berjatuhan, baik dari kalangan tentara maupun masyarakat sipil, LPI pun terpanggil membantu, seperti mengambil peluru dari tubuh korban dan mencari obat-obatan, meski mereka harus masuk ke area yang dikuasai Belanda. Juga berkat kelompok wanita pemberani itu, mobilisasi dan penyebaran berita mengenai hasil konfrontasi bisa diketahui dengan cepat oleh penduduk kampung. Semangat mereka tidak surut, meskipun dalam membantu korban ke rumah sakit sering kali diganggu oleh tentara musuh.
Kesadaran LPI untuk mempertahankan negara dari ancaman militer Belanda menggugah kesadaran warga lain untuk berpartisipasi dalam aksi peperangan. Anggota LPI membuktikan keberanian dan rela mempertaruhkan nyawa ketika mengangkat dan menolong korban di medan laga.
Pada akhir 1946, demi menunjang rasionalisasi dalam penyempurnaan kesatuan bersenjata Republik Indonesia, Plaatselijk Militer Comandan (PMC) membubarkan laskar wanita itu. Selanjutnya anggota laskar menggabungkan diri ke markas pemimpin pertempuran di biro-biro perjuangan. Ada pula yang kembali ke profesi semula dan balik ke bangku sekolah. Biarpun bubar, kelompok itu masih rutin menggelar pertemuan untuk menjaga tali silaturahmi.
Pembubaran LPI tidak menghentikan semangat perjuangan para anggotanya. Pada agresi militer kedua yang terjadi di Yogyakarta mantan anggota LPI tergugah hatinya untuk terus melakukan pengabdian kepada bangsanya, maka berangkatlah Srini dan beberapa anggota lainnya ke Yogyakarta dan bergabung dengan kesatuan perjuangan lainnya di sana. Di Yogyakarta mereka bertemu dengan LASWI yang merupakan gerakan laskar perempuan yang lahir di Kota Bandung. Mereka sempat menggabungkan diri, meskipun tidak bertahan lama karena konflik yang terjadi di tubuh laskar perempuan tersebut.
Kegiatan-kegiatan LPI dan perannya dalam revolusi fisik di Yogyakarta tahun 1948-1949 antara lain ikut dalam membantu Polisi Tentara dalam mengawasi blockade ekonomi, bertugas dalam pertahanan kota, membantu di PMI dan dapur umum, ataupun menjadi kurir dan membuat senjata. Perjuangan di Yogyakarta LPI bergabung dengan SWK 102 dan SWK 105. Bekal pengetahuan tentang militer dan bidang persenjataan yang diterima pada saat pendidikan di LPI sangat berguna pada saat itu.
Sumber :
Buku :
Djumarwan. (2010). Laskar Putri Indonesia. Yogyakarta: Lembah Manah
Wirawati Catur Panca. (1992). Lahirnya Kelasykaran Wanita dan Wirawati Catur Panca. Jakarta: Yayasan Wirawati Catur Panca.
Lain-lain :
Suhatno. (2006), “Sumbangan Wanita Yogyakarta pada masa Revolusi”, Jantra, Vol. I. No.2, hlm. 67-74.
Janti, Nur. (2018). “Perempuan Yogakarta dalam Perjuangan”. Historia, dalam https://historia.id/politik/articles/perempuan-yogyakarta-dalam-perjuangan-DEeWj
Mardiani, Annisa. (2015). “Para Perempuan dalam Perang Kemerdekaan”. Historia dalam https://historia.id/politik/articles/para-perempuan-dalam-perang-kemerdekaan-6kR4y

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERANGAN UMUM 1 MARET