PENDIDIKAN MILITER PADA TNI ANGKATAN UDARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945-1950
PENDIDIKAN MILITER PADA TNI
ANGKATAN UDARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945-1950
Abstrak
Pendidikan
tidak terbatas pada tempat, yaitu suatu lingkungan hidup tertentu, melainkan
bisa dimana saja. Beigtu pula bentuk kegiatan tidak terbatas dalam hal
pendidikan. Pedidikan sebagai pengalaman
belajar mempunyai bentuk, suasana, dan pola yang berbeda-beda. Ada berbagai
macam jenis pendidikan, salah satunya adalah pendidikan militer. Suatu
pendidikan yang dilaksanakan untuk mendidik calon prajurit maupun perwira
tentara yang nantinya bertugas untuk menjaga keselamatan negara.
Kesatuan
yang bertugas menjaga keselamatan negara pertama kali dibentuk pada 22 Agustus
1945 dalam sidang PPKI yang dinamakan BKR Badan Keamanan Negara. Salah satu
cabangnya yaitu BKR Udara. Sesuai maklumat 5 Oktober 1945 nama BKR di Ubah
menjadi TKR sehingga secara langsung BKR Udara berganti menjadi TKR Udara atau
juga sering disebut sebagai TKR Jawatan Penerbangan.
Tentara
sebagai satuan yang bertanggungjawan terhadap keamanan dan keselamatan negara
harus memiliki kulifikasi khusus sebagai seorang prajurit. Oleh karena itu,
perlu diadakannya pendidikan di kalangan militer. Sejak Indonesia
diproklamasikan pendidikan ketentaraan mulai dirintis, termasuk pedidikan untuk
para calon penerbang yang tergabung
dalam satuan TKR Jawatan Penerbangan pada masa itu. di Maguwo, Jogakarta di
bentuk lembaga pendidikan pada 15 November 1945 yang saat ini kita kenal
sebagai Akademi Angkatan Udara (AAU).
Kata
Kunci : Pendidikan, Militer, Angkatan
Udara
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Ditinjau
dari substansi atau isinya, ilmu pendidikan merupakan sebuah sistem pengetahuan
tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Organisasi isi ilmu pendidikan,
sebagai sebuah sistem konsep, terbentuk dari unsur-unsur yang berupa
konsep-konsep tentang variabel-variabel pendidikan, dan bagian-bagian berupa
skema-skema konseptual tentang komponen-komponen pendidikan.
Disamping
mempunyai sosok dalam bentuk, ilmu pendidikan mempunyai objek yang menjadi
ruang lingkup dan hal-hal yang diteliti. Ditinjau dari fungsinya, objek ilmu
pendidikan dapat dibedaka menjadi : (1) objek formal atau bidang yang menjadi
keseluruhan ruang lingkup garapan riset pendidikan, dan (2) objek material atau
aspek-aspek atau hal-hal yang menjadi garapan langsung riset pendidikan.
Objek
formal ilmu pendidikan adalah pendidikan, yang dapat diartika secara maha luas,
sempit dan luas terbatas. Dalam pengertian maha luas, pendidikan sama dengan
hidup. Pendidikan adalah segala sesuatu yang terjadi dalam hidup situasi dalam
hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman
belajar karena itu, pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai keseluruhan
pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Dalam pengertian yang maha
luas, pendidikan berlangsung tidak dalam batas usia tertentu tetapi berlangsung
sepanjang hidup (lifelong) sejak lahir (bahkan sejak dalam awal kehidupan dalam
kandungan)) hingga mati. Dengan demikian, tidak ada batas waktu berLngasungnya
pendidikan. Pendidikan berlangsung pada usia balita, usia anak, usia remaja,
dan usia dewasa, atau seumur hidup setiap orang it sendiri.
Pendidikan
tidak hanya terbatas pada waktu, tetapi juga segala sesuatunya tidak memiliki
batasan. Pendidikan tidak terbatas pada tempat, yaitu suatu lingkungan hidup
tertentu, melainkan bisa dimana saja. Beigtu pula bentuk kegiatantidak terbatas
dalamhalpendidikan. Pedidikan sebagai
pengalaman belajar mempunyai bentuk, suasana, dan pola yang
berbeda-beda.
Sedangkan
pengertian sempit tentang pendidikan adalah sekolah atau persekolahan (schoolingI). Sekolah adalah lembaga
pendidikan formal yang mengadakan kegiatan pendidikan. Pendidikan disekolah
identik dengan pendidikan di dalam ruang kelas yang dilakukan oleh seorang guru
(pengajar) kepada siswa-siswanya. Dalamm pengertian sempit pendidikan tidak
berlangsung seumur hidup melainkan pada jangka waktu tertentu disuatu temoat
khusus dan kegiatan pada umumnya terstruktur.
Pendidikan
luas terbatas merupakan pengertian dari pendidikan yang telah disesuaikan
dengan konsisi pendidikn yang ada. Pengertian pendidikan tercantum dalam UU No.
2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya. Pasal 1
ayat 91), berbunyi “Pendidikan adalahusaha sadar untuk mempersiapkan peserta
didik melalui kegiatan pengajaran, bimbingan, dan/ atau latihan bagi perannya
di masa yang akan datang.[1]
B. Rumusan
Masalah
a. Bagaimanakah
Sejarah didirikannya TNI dan Pendidikan Militer di Indonesia?
b. Apakah
yang dimaksud dengan pendidikan Militer?
c. Bagaimana
Pendidikan Militer AURI pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1950?
C. Tujuan
a. Untuk
mengetahui tentang sejarah didirikannya TNI dan Pendidikan Militer Indonesia.
b. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan militer.
c. Untuk
mengetahui mengenai pendidikan Militer yang dilaksanakan oleh AURI di awal
kemerdekaan pada tahun 1945-1950.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Militer dan Pendidikannya
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia
telah memproklamasikan kemerdekaannya. Bagi bangsa Indonesia hal ini merupakan
puncak perjuangannya untuk menentukan nasi sendiri. Mulai saat itu rakyat
Indonesia berjuangan untuk mempertahankan kemerdekannya dari ancaman kembalinya
belenggu penjajah Belanda dan Jepang.
Dalam sidangya pada 22 Agustus 1945
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) telah memutuskan untuk membentuk
:
a. Komite
Nasional Indonesia (KNI) yang bertugas membantu presiden dalam tugas
pemerintahan.
b. Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang bertugas memperjuangkan kemerdekaan dalam bidang
politik dan sekaligus merupakan motornya revolusi.
c. Badan
Keamanan Rakyat (BKR) yang bertugas menjaga terjaminnya keamanan dan ketertiban
umum.
BKR bukanlah tentara melainkan badan
yang bertugas menjamin ketentraman umum dan merupakan bagian dari Badan
Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).meskioun begitu pada kenyataannya BKR
tidaklah sekdar sebuah “penjaga”, melainkan sebuah korps satuan bersenjata yang
mempelopori, mendorong dan memutar roda revolusi. BKR-lah yang memimpin
perebutan-perebutan kekuasaan sipil dan militer dari Jepang.
Dengan terbentuknya KNI setempat dan
adanya tuntutan perjuangan pada waktu itu, maka perjuangan BKR hakekatnya telah
sesuai dengan tujuan semula sebagai pengaman perjuangan Bangsa Indonesia dalam
pelbagai bidang. Akibat dari pada penyesuian lapangan perjuangan tersebut
timbullah bebrapa nama BKR sejalan dengan bidang tugas pengabdiannya seperti :
BKR Laut, BKR Kereta Api, BKR Pos, BKR udsara dan masih banyak BKR dengan
bidang tugas yang berbeda-beda.
Adapun BKR Udara berdiri di
daerah-daerah pangkalan udara atau pemusatan seperti di Pandanwangi (Lumajang),
Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Morokrembangan (Surabaya), Panasan (Sala),
Kalibanteng (Semarang), Maguwo (Yogyakarta), Andir (Bandung), Cibeureum
(Tasikmalaya), Jatiwangi (Cirebon), Cililitan (Jakarta), Gorda (Banten), dan
beberapa tempat diluar Jawa. Dengan demikian BKR Udara hanya terdapat
ditempat-tempat tertentu saja yang tumbuh dan berkembang sendiri karena
masing-masing organiatoris berada dibawah wewenang KNI setempat.
Sehubungan dengan terbentuknya BKR, maka
pada tanggal 23 Agustus 1945 Presiden mengamanatkan kepada seluruh rakyat Indonesia
untuk tetap tenang, memegang teguh disiplin dan siap sedia berjuang untuk
Indonesia Merdeka. Kepada sekalian bekas prajurit PETA (Pembela Tanah Air),
Heiho, Pelaut dan pemuda-pemuda lain diserukan agar sementara masuk dan bekerja
dalam BKR. Kelas akan datang saatnya mereka dipanggil untuk menjadi Prajurit
dalam Tentara Kebangsaan Indonesia.
Pada saat-saat menegakkan kekuasaan
pemerintahan RI, serta berlangsungnya perebutan-perebutan senjata dari tangan
Jepang dan pertempran-pertempuran yang berlangsung diseluruh pelosok Tanah Air,
maka pemerimtah RI telah memanggil Oerip Soemohardjo, pensiunan Mayor KNIL, ke
Jakarta. Beliau diangkat sebagai Keala Staff Umum dan ditugaskan segera
membentuk suatu tentara Nasional. Dengan maklumat pemerintah tertanggal
Jakarta, 5 Oktober 1945, dibentuklah tentara reguler yang disebut Tntara
Keamanan Rakyat (TKR). Penjelasan maklumat tersebut menyebutkan, bahwa untuk
memperkuat oerasaan keamanan umum, maka diadakan suatu Tentara Kemanan Rakyat,
sejak itu mulai diletakkan dasar-dasar dan diterapkan organisasi pertahanan dan
ketentaraan nasional Indonesia.
Sementara penyusunan organisasi
ketentaraan dimulai, maka sekutu telah menduduki kota-kota besar di Indonesia.
Pendaratan pertama tentara sekutu yaitu pada tanggal 15 Oktober 1945 di Jawa
dan Sumatera, dimana NICA (Netherlands Indies Civil Administration) datang
bersama Inggris mendaratkan pasukan-pasukannya. Rakyat Indonesia yang
mengetahui tujuannya untuk mengembalikan status jajahan bagi wilayah Indonesia,
menyongsong tantangan tersebut dengan tekad : sekali merdeka, tetap merdeka.
Rakyat dan khususnya pemuda Indonesia serta merta mengangkat senjata untuk
menghalau penjajah. Sehingga sejak saat itu berkobarlah pertempuran-pertemputan
di berbagai tempat.
Sejajar dengan ditingkatkannya BKR
menjadi TKR pada 5 Oktober 1945, maka BKR Udara pun secara otomatis menjadi TKR
Udara yang lazimnya kita kenal dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. [2]Adapun
para pelopor dan pendukung kegiatan BKR Udara/TKR Jawatan Penerbangan ini
kebanyakan bekas anggota-anggota penerbangan Belanda ialah : Militaire
Luchtvraart (ML), Marine Luchtvraat Dienst (MLD), dan Vrijwillig Viegers Corps
(VVC). Juga bekas anggota penerbangan Jepang ialah : Rikugun Koku Butai, Kaigun
Koku Butai dan Nanpo Koku Kabusyiki di samping para pemuda pejuang lainnya.
B. Pendidikan
Militer
Pendidikan Militer merupakan suatu
pendidikan bagian penting bagi militer Indonesia. Tahap pertama ini disebut
Kawah Candradimuka, artinya, tahap penggodokan untuk masa peralihan dari sikap
seorang sipil diubah menjadi sejatinya seorang militer. Pendidikan Militer
digolongkan menjadi 2 yaitu :
1. Pendidikan
Dasar Militer (Kawah Candradimuka)
2. Pendidikan Dasar Golongan
Pendidikan dasar keprajuritan merupakan
dasar pendidikan untuk membentuk pola pikir, sikap, dan pola tindak sebgai
seorang prajurit. Pendidikan militer sarat dengan tempaan fisik yang keras dan
berdisiplin tinggi, namum pembinaan fisik tidak identik dengan kekerasan.
Pendidikan di militer adalah penggemblengan fisik yang terukur, bertahap, dan
berlanjut. Tujuan dari penggemblengan fisik dalam pendidikan militer, bertujuan
untuk menciptakan sikap mental seorang prajurit yang tanggap, tanggon, dan
trengginas. Tanggap berarti harus mampu tampil dan mahir pada tugasnya yang
diimbangi dengan kemampuan dan intelegensi yang memadai. Tanggon berarti
bermental dan bermoral tinggi serta ditugaskan di berbagai medan baik di laut
maupun di pendirat. Sedangkan trengginas, berarti memiliki jasmani dan rohani
yang prima sehingga mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan tangkas.[3]
C. Penerbangan
dan Sekolah Pendidikan Penerbangan yang Pertama
Setelah pangkalan-pangkalan udara
berhasil dikuasai, maka dimulailah usaha-usaha untuk merintis ke arah hidupnya
kembali pangkalan-pangkalan tersebut dengan Materiil dan Fasilitas yang ada.
Dalam waktu singkat, antara Oktober-November 1945, berarti kurang lebih tiga
bulan setelah merdeka, pesawat Republik Indonesia yang pertama kali berhasil
diterbangkan adalah dari Maguwo dan Cibeureum. Dengan telah berhasil
diterbangkannya pesawat-pesawat peninggalan Jepang timbul persoalan baru untuk
segera ditangani, yaitu membuka pendidikan yang mengajarkan pengetahuan tentang
penerbangan. Pada zaman Belanda, bidang penerbangan hanya dikuasai oleh Tentara
Belanda saja. Baru ketika Perang Dunia II meletus, dan makin mendesaknya
ancaman pasukan Tentara Jepang, maka Belanda mulai merasakan kekurangan tenaga
terlatih, sehingga menimbulkan masalah personalia yang rumit.
Pada waktu Jepang Menyerbu Indonesia,
Halim Perdana Kusuma dikirim pemerintah Belanda ke India, untuk mengikuti
pendidikan Opsir Torpedo pada Angkatan Udara India. Agustinus Adisucipto masuk
Sekolah Calon Perwira bang ML di Kalijati. Akhirny ia lulus dengan Brevet GMB
(Groot Militaire Breveet).
Pangkalan Udara Bugis Malang membuka
sekolah penerbang atas prakarsa Suhud dan H. Suyono. Mata pelajaran yang
diberikan terbatas pada ilmu pengetahuan umum tentang penerbangan. Pada tanggal
15 November 1945 di Maguwo, Yogyakarta diselenggarakan sekolah penerbang,
dibawah pimpinan Adisucipto yang memang sudah berpengalaman dalam dinas
penerbangn Belanda. Sekolah Penerbangan Adisucipto inilh yang kemudian hari
secara formal sebagai rintisan menuju Akademi Angkatan Udara (AAU).[4]
Pada sawal berdirinya, organisasi ini
belum terikat organisasi TKR Jawatan Penerbangan ataupun markas besar Umum
Bagian Penerbangan. Sebelum sekolah penerbangan dibuka, dimulailah pengarahan
calon siswa. Diantara pemuda yang mendaftarkan diri menjadi calon penerbang ,
terdapat juga mereka yang pernah mendapat pendidikan penerbangan pada Zaman
Belanda, namun banyak juga siswa yang sama sekali belum pernah mendapat
pendidikan penerbangan.
D. Fasilitas
Pendidikan
Pada mulanya, Sekolah Penerbangan tidak
memiliki gedung. Pelajaran diberikan dibawah pohon cherry atau pohon waru
ditepi lapangan udara, atau diaseama Hotel Tugu. Pakaian yang digunakan latihan
terbang terbuat dari kai Blaco yng diberi pewarna kulih pohon mahoni, sehingga warnanya menjadi
kuning kecoklatan. Pesawat yang digunakan sebagai pesawat latih adqalah Cureng
bersayap dau, yang oleh Sekutu dikenal dengan nama Willow, buatan Jepang tahun
1933.[5]
Sebelum diadakan latihan terbang, para
kadet mendaoatkan pelajaran teori, seperti Lalu Lintas Udara, Navigasi,
Aerodinamika, Keamanan Terbang, Mesin,
Teknik Penerbangan, Peralatan, Pengamanan Bandara, Radio Telegrafi, dan
Meteorologi. Sebagai calon perwira penerbang Militer, mereka juga diberi
pelajaran Dasar Ilmu Kemiliteran dan pengetahuan tentang berbagai macam
senjata. Pelajaran terbang diberikan sebagai pelajaran pokok diberikan langsung
oleh Adisucipto, dibantu Imam Swongso Wirypsaputro, Iswahyudi, Abdulraachman
Saleh, dan Husein Sastranegara. Pelajaran teori diberikan pada waktu siang dan malam hari, untuk mengejar waktu.
E. Pendidikan
Kejuruan
Dengan peningkatan tugas TKR Jawatan
Penerbangan menjadi TRIO, berkembang pula organisasi yang ada dibawahnya,
termasuk bagian Penerbangan Sipil, Perencanaan Knstruksi, dan propaganda yang
berbah menjadi Jawatan-Jawatan. Kemudian diubah lagi menjadi Direktorat
Penerbangan Sipil, berkedudukan di Yogyakarta, Direktorat Biro Rencana dan
Konstruksi berkedudukan di Maospati (Madiun), Sedangkan Biro Penerbangan MT
AORI di Yogyakarta.
Sesuai dengan Status Angkatan Udara,
Maka Peningkatan Personalia, baik kualitas maupun kuantitas, menjadi pemikiran
dan perhatian pemimpin AURI. Salah satu keputusan yang diambil, adalah segera
menertibkan dan meluaskan pendidikan dikalangan AURI, dibawah pimpinan Komodor
Muda Udara Adisucipto, disamping jabatannya senagai kepala sekolah penerbangan
dan komandan Pangkalan Udara Maguwo. Pelaksanaan sementara diserahkan kepada
masing-masing kesatuan dan jawatan yang bersangkutan. Dengan demikian, maka selain
sekolah penerbangan di Maguwo, juga dibuka lembag-lembaga pendidikan lain yang
diperlukan dalam dunia penerbangan.
F. Sekolah
Radio Telegrafis Udara
Dengan dibukanya Sekolah Penerbang di
Malang, maka dibukalah sekolah Radio Tekegrafis sebagai modal dasar PHB-AU,
dibawah pimpinan Opsir Muda Udara II Mochamad Tohir Harahap (mantan Markonis
kapal selam Belanda). Sebagai tindak lanjut dari peningkatan organisasi AURI
yang diikuti penyusunan dan penyempurnaan Jawatan Perhubungan, pimpinan AURI
kemudian menunjuk Opsir Muda Udara I Adi Sumarmo mantan anggta Radio Telegrafis
Udara the Nheterland East Indies Air Force.
Sekolah Radio Telegrafis Udara di bawah
pimpinan Adi Sumarmo terdiri dari siswa lulusan Radio Telegrafis TNI-AD
sebanyak 20 orang. Mereka termasuk muris unggulan dan dikumpulkan di kelas A.
Sedangkan 14 murid hasil seleksi dari pendaftaran umum/lulusan SMP dikumpulkan
di kelas B. Sekolah Radio Udara ini diresmikan pada tanggal 1 Februari 1947.
Tahap pertama diadakan Flight Medical
Test bagi kelas A, dan yang lulus Check
Up sebagai flying status sebanyak
sembilan orang.
G. Sekolah
Administrasi Militer
Perkembangan organisasi AURI pada
masa-masa awal kemerdekaan terus diupayakan. Perkembangan juga dilakukan di
bidang administrasi. Pembinaan administrasi di prakarsasi oleh Suyoso Karsono
yang kemudian diangkat menjadi Pimpinan Staff Administrasi di Markas Tertinggi
TRI AU di Yogyakarta.
Dalam rangka melengkapi tenaga
administrasi pada tahun 1946 di MT TRI-AU didirikan Sekolah Administrasi Militer
yang dipimpin oleh Suyoso di Kantor Inspektorat Administrasi Militer di Jl.
Terbantaman Yogyakarta. Mata pelajarannya adalah Administrasi Keuangan dan Umum
yang diikuti oleh 30 anggota TRI-AU, yang dilaksanakan selama empat bulan.
H. Pendidikan
Teknik dan Keahlian Lain
Untuk menjamin dan meningkatkan kualitas
teknisi serta menambah tenaga baru dibidang penerbangan, maka disamping Sekolah
Penerbangan Maguwo, A. Adisucipto memprakarsai berdirinya Sekolah Teknik Udara
di Maospati. Sebagai Pemimpin sekolah udara ialah Ibrahim Bekti. Sekolah dibuka
pada tanggal 26 Desember 1946, diikuti oleh 40 siswa yang berasal dari anggota
AURI maupun pelajar sekolah lain.
Selian pelajaran teori di kelas,
siswa-siswa juga mendapatkan pelajaran ekstrakulikuler seperti Sepak Bola, Bola
Keranjang, Pencak Silat dan Berenang. Selama dalam pendidikan, para siswa
diberi senjata, pakaian seragamnya kain dril warna coklat, tanda pangkat siswa
terletak dibahu berupa strip merah dengan dasar biru.
I.
Pendidikan Penerbangan di India
India adalah
satu-satunya negara tetangga yang sangat gigih membantu perjuangan Indonesia.
Selain itu, pemerintah India memiliki fasilitas penerbangan peninggalan dari
Pemerintah Inggris, terutama penerbangan Militer, sedangkan penerbangan sipil
pun sudah beroprasi dengan baik.
Pengiriman Kadet ke
negeru tetangga adlah untuk memperbanyak jumlah penerbang yang bermutu. Dengan
demikian, maka pada bulan Desember 1947, AURI membuka kesempatan bagi pemuda
Indonesia lulusan SMA-B atau sederajat untuk dididik menjadi calon penerbang.
Mereka harus mengikuti latihan dengan pesawat peluncur yang masih sangat
sederhana, yang kita sebut Zogling, ciptaan
Wiweko Supono dan Nurtanio Pringgoadisuryo. Zogling artinya mengenyut atau
menyusu seperti bayi. Cara melatihpun masih sangat sederhana.
Pada 18 Desember 1948
belanda mengadakan Agresi Militer II. Hampir seluruh pangkalan udara RI
diserang, sehingga pembiayaan kadt di India secara langsung terputus.Kesulitan
pembiayaan ditangai oleh Wiweko dengan mendirikan perusahaan penerbangan
Indonesian Airways di Ranggon (Burma). Perusahaan tersebut didirikan oleh
perwira muda AURI yang “terdampar” di India, yaitu Opsir Udara III Wiweko
Supono, Opsir Udara III Sutarjo Sigit, Opsir Udara III Sudaryono, Opsir Muda
Udara Sumarno dan menghasilkan uang cukup banyak, sehingga pendidikan dapat
berjalan dengan lancar.
Lama pendidikan dua
tahun dengan mendapat Brevet A
Pnerbangan Sipil. Sebanyak 19 kadet dapat kembali dengan selamat, sedangkan
kadet udara Supardi guru di tengah Baumrali pada waktu tugas 28 Mei 1949,
menggunakan pesawat latih De Havilland
Chipmunk VT-CVN.
J. Penerjun
Payung
Pada tahun 1946, latihan-latihan dimulai,
meskipun semula hanya Ground-Training
(latihan darat) saja, tetapi kemudian diadakan kursus kilat Jumping Master, di bawah pimpinan Opsir
Udara II Sujono yang setelah selesai, ditugaskan untuk memimpin Pendidikan
Pasukan Payung.
Pada tanggal 8 Maret 1947, dilapangan
Maguwo, Yogyakarta diadakan peragaan penerbangan (air show) yang lazim diadakan pada waktu peringatan Wings Day (wisuda penerbang) bersama
para penduduk hadir juga Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, dan
Panglima Besar jenderal Soedirman.[6]
Pendidikan Peloncat Payung secara
terukur baru dilaksanakan pada tahun1948, masuk dalam Staff Khusus Pasukan
Payung, selain Sekolah Penerbang yang waktu itu ada di bawah Pimpinan Kapten
Udara Makmur Suhodo, penyebaran minat dirgantara menggunakan payung udara pun
dilakukan pula di Sumatra, yang banyak menarik perhatian pemuda.
Latihan-latihan para (singkatan dari paratroop)
dilakukan juga di Bukittinggi, sejak Opsir Udara II Seujono dan Opsir Muda
Udara II Sukoco terjun diparasut Lapangan Terbang (Gadut) Bukittinggi, ketika
mempersiapkan lapangan udara untuk pendaratan pesawat-pesawat Dakota.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Badan Keamanan Rakyat didirikan untuk
menangani masalah keamanan rakyat Indonesia. dengan keluarnya maklumat 5
Oktober 1945 maka BKR berubah menjadi TKR. Sejalan dengan hal itu BKR Udara
berganti menjadi TKR Udara atau TKR Jawata Penerbangan.
Pentingnya tenaga-tenaga penerbang yang
terlatih mulai dirasakan, sehingga pada bulan November 1945 mulai dibuka
sekolah-sekolah bagi calon penerbang. Berbagai macam cabang-cabang sekolah
dibuka juga untuk melengkapi kebutuha perwira udara yang mumpuni di bidangnya masing-masing.
Pengiriman kadet keluar negeri juga
dilakoni guna memperoleh tenaga handal yang siap tempur. Indonesia mengirimkan
kadet udara ke Indina untuk melaksanakan pendidikan calon penerbang selama dua
tahun. Meskipun berada pada kondisi yang tidak menentu karena adanya AMB II,
pendidikan tetap dilanjutkan hingga selesai.
B. Penutup
TNI adalah bagian penting dalam
ketahanan Indonesia. Pendidikan yang bermutu bagi para calon Tentara sangatlah
diperlukan. Sejak awal kemerdekaan hal ini telah disadari oleh para pendiri
bangsa.
Pendidikan Awal bagi Angkatan Udara RI
merupakan tonggak berdirinya lembaga pendidikan bagi calon Perwira TNI AU yang
nantinya akan meneruskan perjalanan A. Adisucipto, Adisumarmo, Halim Perdana
Kusuma dan kawan-kawannya.
Daftar Pustaka
Buku :
Dra. Irna H.N. Hadi Soewito, dkk. Awal
Kedirgantaraan di Indonesia Perjuangan AURI 1945-1950. Hal. 41
Drs. Redja Mudyahardjo. Filsafat Ilmu Pendidikan.
2002. (Rosda : Bandung). hal, 54
Major Drs. Trihadi, Sejarah Perkembangan Angkatan Udara, 1971, (Pusat Sejarh ABRI :
Departemen Pertahanan-Keamanan). Hal. 3-4
Internet :
Penulis :
YS Pevensie
[1] Drs. Redja
Mudyahardjo. Filsafat Ilmu Pendidikan. 2002. (Rosda : Bandung). hal, 54
[2] Major Drs.
Trihadi, Sejarah Perkembangan Angkatan
Udara, 1971, (Pusat Sejarh ABRI : Departemen Pertahanan-Keamanan). Hal. 3-4
[3]
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_Militer
[4] Dra. Irna H.N.
Hadi Soewito, dkk. Awal Kedirgantaraan di Indonesia Perjuangan AURI 1945-1950.
Hal. 41
[5] Op. Cit.
Hal. 43
[6] Ibid.
Hal. 62
Komentar
Posting Komentar