AGRESI MILITER BELANDA II - Peringatan Hari Bela Negara
AGRESI
MILITER BELANDA II
“Titik
Balik Revolusi Kemerdekaan dan Semangat Bela Negara yang pertama”
Belanda
yang masih belum mengakui kemerdekaan Indonesia terus saja berupaya untuk
kembali menguasai Bangsa Indonesia. Meskipun sebelumnya kedua negara tersebut
sama-sama bersekapat dalam suatu perjanjian, yang disebut perjanjian
Linggarjari. Belanda merasa bahwa perjanjian tersebut memberatkan pihaknya
sehingga membuat mereka harus melanggar perjanjian. Situasi menjadi semakin
memanas dengan adanya tindakan Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan
Belanda pada 21 Juli 1947. TNI harus di tarik mundur di belakang garis Van Mook
yang ditetapkan oleh pihak Belanda dan harus merelakan daerah-daerah strategis
karena berhasil dikuasai oleh Belanda. Sebagai bangsa yang sudah merdeka dan
memiliki pemerintahannya sendiri tentu saja Indonesia tidak tinggal diam dengan
upaya perebutan kekuasaan oleh negara asing.
Pada
awal Desember 1947 dimulai lagi perundingan dengan pihak Belanda oleh Kabinet
Amir Syjarifuddin di bawah pengawasn Komisi Tiga Negara (KTN) di atas kapal
Renville. Persetujuan Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948.
Perjanjian ini mengakhiri konflik antara Indonesia dengan Belanda.
Gejolak
yang terjadi pada masa itu tidak hanya berasal dari Belanda, melainkan dari
dalam negeri juga banyak terjadi. PKI sejak awal tahun 1948 sudah melancarkan
aksinya untuk berupaya menggantikan ideologi Pancasila dengan Ideologi Komunis.
Puncaknya terjadi pada pemberontakan PKI di Madiun tanggal 19 September 1948. Namun
dengan keyakinan dan tekad Bangsa akhirnya pergolakan tersebut bisa diatasi. TNI
sebagai badan yang bertugas menjaga pertahanan negara berhasil menumpasnya
dengan waktu yang tidak lama.
Belum
lagi kering darah yang tercucur akibat pemberontakan PKI, Bangsa Indonesia
sudah dihadapkan dengan konflik yang bersangkutan dengan Bangsa Belanda.
Setelah
memutuskan melanggar perjanjian Linggarjati, kali ini Belanda jga dengan tegas
kembali melanggar perjanjian Renville. Belanda melancarkan Agresi Militernya
yang ke-2 dengan menyerang Lapangan Udara Maguwo dan berhasil menduduki Ibu
Kota Negara yang saat itu berada di Yogyakarta. Tanggal 19 Desember 1948
pesawat tempur milik Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart/ML)
melayang-layang diatas bumi Maguwo dan menghujaninya dengan bom dan peluru.
Aksi baku tembak antara TNI dengan Belanda sempat terjadi. TNI dengan segenap
kekuatannya berupaya menghalau serangan lawan.
Akan
adanya serangan ini sudah diperhitungkan oleh TNI sebelumnya. Soekarno beserta
Mohammad Hatta dan beberapa menteri ditahan Belanda termasuk Suryadi Suryadarma
selaku Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia. Untunglah Soekarno telah
memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran yang berkedudukan di Bukit Tinggi,
Syafrudin Prawiranegara untuk mengadakan pemerintahan darurat apabila
sewaktu-waktu keadaan menjadi genting. Berkat kpeputusan yang diambil Presiden
Soekarno kala itu, Indonesia bisa mempertahankan dirinya. Meskipun Soekarno dan
beberapa tokoh penting telah ditahan, tidak serta merta menyurutkan semangat
untuk kembali menegakkan kedaulatan Bangsa.
Peristiwa
itu telah meningkatkan semangat perjuangan rakyat untuk melawan Belanda
bersama-sama dengan Angkatan Perang Indonesia. Baik di darat, laut dan udara
berupaya melancarkan serangan dengan taktik militer. Sri Sultan Hamengkubuwono
IX sebagai menteri pertahanan Indonesia mengadakan perundingan dengan pimpinan
TNI yang masih bertahan di Yogyakarta. Taktik yang dipilih oleh Bangsa
Indonesia adalah dengan melakukan gerilya. Pasukan militer di bawah Panglima
Jenderal Soedirman dan rakyat bersatu untuk melawan Belanda.
Perjuangan
tidak pernah berhenti sampai akhirnya Belanda berhasil diusir dari tanah air
dan udara Indonesia. PBB melihat kondisi ini sudah semakin parah sehingga
memutuskan adanya perundingan untuk menyelesaikan konflik tersebut. Melalui
Konferensi Meja Bundar, diputuskan bahwa Belanda harus meninggalkan wilayah
Indonesia, dan beberapa persetuajuan lainnya. Puncaknya pada 27 desember 1949
Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia.
Ikrar Bela Negara
Source : Sekjen Dewan Ketahanan Nasional th 2019
Tanggal
19 Desember 1948 merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. dihati
itu tanpa mengenal rasa takut, seluruh komponen bangsa bersatu menjadi satu
kekuatan untuk bersama-sama mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia.
Semangat perjuangan yang patut dijadikan contoh dalam perjuangan-perjuangan
selanjutnya dalam mempertahankan NKRI. Untuk menghormati para pejuang dan
mengenng perjuangannya setiap tanggal 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela
Negara berdasarkan Keppres No. 28 tahun 2006. Bela Negara adalah sikap dan
perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD)
1945, dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Resimen Mahasiswa sebagai salah satu kader Bela Negara
Source : PenMenwaMahakarta, Latgab Menwa th 2019
-Pev
Komentar
Posting Komentar